TEPI·LAPANGAN
Taktik

Set-piece yang paling diremehkan: bagaimana pelatih lemparan ke dalam mengubah Liverpool

Ada 40 sampai 60 lemparan ke dalam dalam satu pertandingan, dan tim rata-rata hanya mempertahankan bola pada separuhnya. Ketika Liverpool merekrut pelatih khusus untuk itu, angka retensi mereka di bawah tekanan melonjak dari terburuk ketiga menjadi terbaik di liga.

Yoga Pratama · Tepi Lapangan · 29 September 2026

Hitung berapa kali bola keluar lapangan lewat garis samping dalam satu pertandingan, dan Anda akan sampai pada angka yang mengejutkan. Menurut Thomas Grønnemark, ada antara empat puluh sampai enam puluh lemparan ke dalam dalam sebuah laga sepak bola. Itu jauh lebih banyak daripada tendangan sudut atau tendangan bebas berbahaya, namun hampir tak ada tim yang melatihnya secara serius. Grønnemark juga menyebut bahwa tim rata-rata hanya mempertahankan penguasaan bola pada sekitar separuh dari lemparan-lemparan itu. Ketika sebuah klub besar akhirnya memperlakukan lemparan ke dalam sebagai keahlian yang bisa diasah, hasilnya cukup dramatis untuk mengubah cara orang memandang bagian permainan yang paling diremehkan ini.

Sebuah profesi yang belum pernah ada

Pada tahun 2018, Liverpool di bawah Jürgen Klopp melakukan sesuatu yang saat itu terdengar aneh: mereka merekrut seorang pelatih lemparan ke dalam. Orangnya adalah Thomas Grønnemark, warga Denmark dengan latar belakang tak biasa. Ia pernah memegang rekor dunia Guinness untuk lemparan ke dalam terjauh, tercatat sekitar 51 meter pada 2010, dan pernah pula menjadi bagian tim bobsled nasional Denmark serta atlet lintasan. Latar itu membuatnya memahami lemparan ke dalam bukan sebagai gerakan sepele, melainkan sebagai keterampilan teknis yang bisa dilatih.

Keputusan Liverpool sempat ditertawakan sebagian pengamat. Gagasan menggaji seseorang khusus untuk mengurus lemparan ke dalam terdengar berlebihan, hampir seperti parodi dari obsesi sepak bola modern pada spesialisasi. Tetapi angka yang muncul kemudian membungkam sebagian besar cemoohan itu.

Lonjakan yang terukur

Dampak kerja Grønnemark paling jelas terlihat pada satu metrik: retensi penguasaan bola dari lemparan ke dalam yang dilakukan di bawah tekanan lawan. Pada musim sebelum ia datang, yaitu 2017/2018, Liverpool hanya mempertahankan bola pada sekitar 45,4 persen lemparan ke dalam mereka di bawah tekanan, sebuah angka yang menempatkan mereka di peringkat kedelapan belas Liga Primer, terburuk ketiga di liga itu. Pada musim pertama Grønnemark, 2018/2019, angka itu melonjak ke sekitar 68,4 persen, menjadikan Liverpool yang terbaik di liga dalam kategori tersebut.

Lonjakan sekitar dua puluh tiga poin persentase dalam satu musim adalah perbaikan besar untuk aspek permainan yang selama ini diabaikan. Perlu ditekankan bahwa angka ini khusus mengukur lemparan di bawah tekanan, bukan semua lemparan, sebab justru pada situasi tertekanlah tim biasanya kehilangan bola dengan sia-sia. Analisis yang melaporkan angka ini menempatkan Liverpool di antara tim terbaik Eropa dalam kategori itu, bukti bahwa keahlian yang tampak remeh ternyata bisa memberi keunggulan nyata di lapangan.

Bukan sekadar melempar jauh

Kesalahpahaman umum tentang pelatihan lemparan ke dalam adalah menganggapnya semata soal melempar sejauh mungkin ke kotak penalti. Pendekatan Grønnemark justru lebih luas, terangkum dalam filosofi yang ia sebut lemparan yang panjang, cepat, dan cerdas. Ketiganya adalah kategori berbeda, bukan satu teknik tunggal. Lemparan panjang berguna untuk situasi tertentu di dekat gawang lawan. Lemparan cepat memanfaatkan momen sebelum pertahanan lawan tertata. Lemparan cerdas menekankan penempatan dan pergerakan untuk membuka ruang, sehingga bola bisa dipertahankan meski dikepung.

Inti dari pendekatan ini adalah memperlakukan lemparan ke dalam sebagai peluang untuk memulai serangan yang terkontrol, bukan sekadar cara memasukkan bola kembali ke lapangan secepatnya. Grønnemark sendiri mengeluhkan bahwa selama bertahun-tahun lemparan ke dalam dianggap tak penting, sesuatu yang dilakukan asal-asalan. Padahal, bila ada empat puluh sampai enam puluh kesempatan seperti itu tiap laga, memperbaiki cara menanganinya berarti memperbaiki puluhan momen penguasaan bola yang selama ini terbuang.

Kenapa ini penting bagi cara kita membaca pertandingan

Kisah Grønnemark dan Liverpool menawarkan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar teknik melempar. Ia menunjukkan bahwa dalam sepak bola masih ada wilayah-wilayah yang belum dianalisis dan belum dioptimalkan, tempat keunggulan bisa ditemukan justru karena tak ada yang memperhatikannya. Lemparan ke dalam adalah contoh sempurna: begitu sering terjadi, begitu jarang dilatih, sehingga sedikit perhatian serius langsung memberi lompatan besar.

Bagi penonton yang ingin membaca pertandingan lebih dalam, ini undangan untuk memperhatikan hal-hal yang biasanya luput. Ke mana bola pergi setelah lemparan ke dalam? Apakah tim itu langsung kehilangan penguasaan, atau berhasil merangkainya menjadi serangan? Apakah pelemparnya sekadar membuang bola ke kerumunan, atau ada pergerakan terencana untuk menerimanya? Pertanyaan-pertanyaan itu dulu tak terpikirkan, sampai seorang mantan pelempar rekor dunia membuktikan bahwa jawabannya bisa bernilai puluhan penguasaan bola setiap pekan, dan bahwa bagian sepak bola yang paling diremehkan pun ternyata layak dihitung.

Referensi

  1. Sports Gazette — Thomas Grønnemark: 40-60 lemparan per laga, retensi rata-rata ~50%, filosofi 'long, fast, clever'
  2. This Is Anfield — analisis dampak: retensi throw-in under pressure Liverpool 45,4% (2017/18) ke 68,4% (2018/19)