TEPI·LAPANGAN
Data

Apa yang sebenarnya diubah VAR: membaca datanya tanpa terjebak asumsi

Banyak yang yakin VAR menambah penalti dan mengubah sepak bola secara drastis. Tetapi meta-analisis besar menemukan efeknya pada gol dan penalti justru kecil atau tak signifikan, sementara perubahan paling konsisten ada di durasi laga dan jumlah offside.

Yoga Pratama · Tepi Lapangan · 2 Oktober 2026

Sedikit inovasi dalam sepak bola modern memicu perdebatan sepanas VAR. Sebagian penggemar yakin teknologi ini menyelamatkan keadilan; sebagian lain menuduhnya merusak alur dan spontanitas permainan. Di tengah panasnya opini, ada pertanyaan yang lebih bisa dijawab: apa yang sebenarnya berubah dalam data setelah VAR diterapkan? Jawabannya, ketika ditelusuri lewat meta-analisis yang menggabungkan ribuan pertandingan, ternyata jauh lebih halus dan lebih mengejutkan daripada yang diasumsikan kebanyakan orang. Beberapa perubahan yang paling diyakini publik ternyata kecil atau tak konsisten, sementara perubahan yang paling nyata justru jarang dibicarakan.

Kapan VAR benar-benar masuk

Sebelum ke datanya, ada baiknya meluruskan linimasa. VAR dituliskan secara permanen ke dalam Laws of the Game oleh IFAB pada Maret 2018. Turnamen besar pertama yang memakainya adalah Piala Dunia 2018, setelah uji coba di Piala Konfederasi 2017. Di level liga, adopsinya bertahap: Bundesliga dan Serie A mulai pada musim 2017/2018, La Liga dan Ligue 1 pada 2018/2019, sementara Liga Primer Inggris justru termasuk yang paling belakangan, baru pada musim 2019/2020. Jadi ketika membandingkan “sebelum dan sesudah VAR”, periode acuannya berbeda-beda antar liga, sesuatu yang membuat perbandingan lintas negara harus dilakukan hati-hati.

Yang diyakini publik versus yang ditemukan data

Keyakinan paling umum adalah bahwa VAR menambah jumlah penalti secara signifikan, karena pelanggaran di kotak yang dulu luput kini tertangkap kamera. Di sinilah data mengejutkan. Sejumlah studi bernomor menemukan bahwa dampak VAR terhadap jumlah penalti tidak konsisten. Sebuah kajian kausal yang mencakup puluhan liga di banyak negara tidak menemukan perbedaan signifikan jumlah penalti sebelum dan sesudah VAR. Studi terhadap liga Brasil selama bertahun-tahun juga tidak menemukan perubahan berarti pada penalti. Sebagian studi lama memang melaporkan kenaikan, tetapi tidak semua, sehingga kesimpulan yang jujur adalah bahwa kenaikan penalti bukan efek universal VAR, melainkan sesuatu yang muncul di sebagian liga dan tidak di liga lain.

Hal serupa berlaku untuk jumlah gol. Sebuah meta-analisis besar yang menggabungkan ribuan pertandingan di puluhan kompetisi menemukan bahwa rata-rata jumlah gol per laga praktis tidak berubah setelah VAR, dengan selisih yang sangat kecil dan tidak signifikan secara statistik. Beberapa liga mencatat sedikit kenaikan, beberapa sedikit penurunan, dan efek-efek itu saling meniadakan ketika digabung. Gagasan bahwa VAR secara dramatis mengubah berapa banyak gol tercipta tidak didukung angka agregat.

Perubahan yang justru paling nyata

Bila efek pada gol dan penalti ternyata kecil, di mana VAR benar-benar mengubah sesuatu? Data menunjuk ke dua tempat yang jarang menjadi bahan debat. Yang pertama dan paling konsisten adalah durasi permainan. Meta-analisis menemukan bahwa laga menjadi lebih panjang setelah VAR, dengan efek yang tergolong besar; waktu yang hilang untuk peninjauan ditambahkan kembali sebagai waktu tambahan, sehingga total durasi bertambah secara nyata. Bila Anda merasa pertandingan zaman VAR terasa lebih molor, perasaan itu didukung data.

Yang kedua adalah berkurangnya offside dan pelanggaran. Meta-analisis menemukan jumlah offside menurun secara signifikan setelah VAR, konsisten dengan gambaran gol-gol yang dianulir karena offside tipis dan pemain yang belajar menahan diri agar tidak terjebak. Jumlah pelanggaran juga cenderung berkurang, kemungkinan karena pemain lebih berhati-hati mengetahui pelanggaran bisa ditinjau ulang. Menariknya, klaim populer bahwa “akurasi keputusan offside naik sekian persen” secara naratif masuk akal, tetapi angka pastinya sulit saya temukan dalam sumber terverifikasi, jadi sebaiknya disebut sebagai gejala yang teramati, bukan dengan angka spesifik.

Perdebatan yang belum selesai: keunggulan tuan rumah

Salah satu pertanyaan paling menarik adalah apakah VAR mengurangi bias yang menguntungkan tuan rumah, misalnya lewat keputusan wasit yang selama ini condong ke tim tuan rumah di bawah tekanan penonton. Di sini para peneliti sendiri belum sepakat. Satu meta-analisis besar menyimpulkan bahwa keunggulan tuan rumah tidak berubah signifikan setelah VAR, meski VAR mengurangi variasi antar-kompetisi. Studi lintas-liga lain yang memakai metode berbeda justru menemukan bahwa VAR secara signifikan mengurangi keunggulan tuan rumah, terutama dengan menaikkan performa tim tandang. Dua temuan yang bertentangan ini adalah pengingat bahwa efek VAR bisa berbeda tergantung liga yang diteliti dan metode yang dipakai, dan bahwa mengklaim satu kesimpulan tunggal akan menyederhanakan bukti yang sebenarnya masih terbelah.

Cara membaca VAR secara jujur

Pelajaran terbesar dari data VAR adalah pelajaran tentang kerendahan hati dalam menafsirkan angka. Efek sebuah intervensi besar sering kali berbeda dari yang diasumsikan intuisi, dan berbeda pula antar konteks. VAR tidak secara dramatis mengubah jumlah gol, tidak secara konsisten menambah penalti di semua liga, dan dampaknya pada keunggulan tuan rumah masih diperdebatkan. Yang paling bisa dipastikan adalah bahwa ia memperpanjang durasi laga dan mengurangi offside serta pelanggaran. Bagi siapa pun yang ingin membahas VAR secara serius, titik awal yang jujur bukanlah “VAR mengubah segalanya” atau “VAR tidak mengubah apa-apa”, melainkan pertanyaan yang lebih tepat: berubah pada metrik yang mana, di liga yang mana, dan seberapa besar. Data ada untuk menjawab pertanyaan yang spesifik, bukan untuk membenarkan keyakinan yang sudah dibawa sejak awal.

Referensi

  1. Rogerson dkk. (2024), meta-analisis efek VAR pada gol dan keunggulan tuan rumah (9.076 laga, 20 kompetisi)
  2. Li dkk. (2024), meta-analisis efek VAR: durasi laga bertambah, offside dan pelanggaran berkurang