Expected assists (xA): mengukur penciptaan peluang, bukan sekadar assist
Seorang pemain bisa menciptakan banyak peluang emas tanpa satu pun tercatat sebagai assist, hanya karena rekannya gagal menyelesaikan. Expected assists mencoba memberi kredit atas penciptaan peluang itu. Ini cara kerjanya, dan kekusutan definisinya.
Seorang gelandang melepas umpan terobosan sempurna yang membelah pertahanan dan menaruh rekannya berhadapan satu lawan satu dengan kiper. Rekannya menendang, dan bola melebar tipis di samping tiang. Di lembar statistik, gelandang itu tidak mendapat apa-apa: tidak ada assist, karena tidak ada gol. Padahal ia baru saja menciptakan salah satu peluang terbaik dalam pertandingan. Statistik assist tradisional hanya mencatat hasil akhir, dan hasil akhir sangat bergantung pada apakah rekan setim berhasil menyelesaikan. Untuk menangkap penciptaan peluang yang sesungguhnya, terlepas dari keberuntungan penyelesaian, analitik modern memakai sebuah metrik bernama expected assists, atau xA.
Gagasan intinya
Expected assists mengukur kemungkinan sebuah operan berujung menjadi assist gol. Alih-alih hanya menghitung assist yang benar-benar terjadi, xA memberi nilai pada kualitas operan itu sendiri, berdasarkan seberapa besar peluang operan semacam itu secara historis menghasilkan gol.
Cara berpikirnya berkaitan erat dengan expected goals. Ketika sebuah operan menciptakan sebuah kesempatan menembak, peluang tembakan itu menjadi gol bisa dinilai lewat model expected goals. Nilai peluang itulah yang, dalam banyak pendekatan, diberikan kepada operan yang menciptakannya sebagai xA-nya. Dengan begitu, umpan terobosan yang menciptakan peluang emas mendapat nilai xA tinggi meskipun rekannya gagal mencetak gol, karena yang dinilai adalah kualitas peluang yang diciptakan, bukan apakah bola akhirnya masuk.
Kekusutan yang wajib diketahui
Di sinilah pembaca harus berhati-hati, karena istilah xA dipakai secara berbeda oleh penyedia data yang berbeda, dan ini kerap menimbulkan kebingungan. Ada dua pendekatan yang sama-sama sering disebut xA. Pendekatan pertama, yang dipakai Opta, menilai setiap operan tuntas berdasarkan peluang historisnya menjadi assist, sehingga operan bisa bernilai bahkan jika penerimanya tidak menembak. Pendekatan kedua memberi operan nilai expected goals dari tembakan yang mengikutinya, sehingga hanya operan yang berujung tembakan yang bernilai.
Situs data populer FBref, yang memakai data Opta, membedakan keduanya dengan istilah terpisah: mereka menyebut pendekatan berbasis tembakan berikutnya sebagai xAG, singkatan dari expected assisted goals, dan menyimpan istilah xA untuk model penilaian operan. Sementara itu, situs lain seperti Understat menyebut sebagai xA apa yang FBref namakan xAG. Akibatnya, angka xA dari dua situs berbeda bisa mengukur hal yang tidak persis sama. Pelajaran praktisnya jelas: sebelum membandingkan angka xA, selalu periksa definisi mana yang dipakai sumbernya, sebab membandingkan dua definisi berbeda seolah-olah sama adalah kesalahan yang menyesatkan.
Bedanya dari metrik tetangga
Agar tidak tertukar, ada baiknya menempatkan xA berdampingan dengan dua metrik yang sering disebut bersamanya. Expected goals, atau xG, menilai peluang sebuah tembakan menjadi gol dan memberi kredit kepada penembak. Expected assists memberi kredit kepada pengumpan atas peluang yang ia ciptakan. Sementara expected threat, atau xT, adalah model yang menilai setiap perpindahan bola berdasarkan kenaikan ancaman yang ditimbulkannya, bukan hanya operan kunci terakhir. Ketiganya melihat serangan dari sudut berbeda: penembak, pencipta peluang, dan penggerak bola secara keseluruhan.
Kegunaan dan batasnya
Kekuatan utama xA adalah kemampuannya meredam keberuntungan penyelesaian. Assist aktual seorang pemain bisa naik-turun tajam hanya karena rekannya sedang tajam atau sedang tumpul di depan gawang, padahal kualitas operan yang ia berikan tidak berubah. Dengan menilai penciptaan peluang secara langsung, xA mengungkap pemain kreatif yang assist aktualnya mungkin tertinggal dari kontribusi sesungguhnya, dan sebaliknya menandai pemain yang assist tingginya sebagian ditopang penyelesaian gemilang rekan setim.
Tetapi xA juga punya batas yang jujur harus disebut. Ia bergantung pada model expected goals yang mendasarinya, sehingga mewarisi segala asumsi dan kelemahan model itu. Ia umumnya hanya menghitung operan terakhir sebelum peluang, dan mengabaikan operan pembuka atau giringan yang membangun serangan, yang justru menjadi wilayah metrik lain seperti expected threat. Definisinya berbeda antar penyedia, seperti sudah dibahas. Dan ia tidak memberi kredit pada pergerakan tanpa bola yang menciptakan ruang. Dengan kesadaran akan batas itu, xA tetap salah satu cara terbaik yang kita punya untuk menjawab pertanyaan sederhana namun penting: siapa sebenarnya yang menciptakan peluang, terlepas dari siapa yang beruntung menyelesaikannya.