TEPI·LAPANGAN
Analitik

Packing: menghitung berapa banyak lawan yang dilewati sebuah umpan

Sebuah umpan bisa dinilai bukan dari jaraknya, melainkan dari berapa banyak pemain lawan yang ia keluarkan dari permainan. Itulah gagasan di balik packing, metrik Jerman yang sempat ramai di Piala Eropa 2016. Ini cara kerjanya, dan keterbatasannya.

Yoga Pratama · Tepi Lapangan · 20 Oktober 2026

Cara kita menilai sebuah umpan biasanya sederhana: apakah ia sampai ke rekan, seberapa jauh, ke arah mana. Tetapi ada sudut pandang lain yang mengubah cara kita melihat operan sepenuhnya, yaitu menilai umpan dari berapa banyak pemain lawan yang berhasil ia keluarkan dari permainan. Sebuah umpan terobosan yang melewati garis pertahanan sekaligus tidak hanya memindahkan bola; ia melumpuhkan beberapa pemain lawan sekaligus, membuat mereka tak lagi relevan bagi jalannya serangan. Metrik yang mencoba menangkap gagasan ini disebut packing, dan ia sempat menjadi bahan pembicaraan luas ketika ditampilkan di siaran Piala Eropa 2016. Memahaminya membuka cara baca yang berbeda tentang apa yang membuat sebuah umpan berharga.

Gagasan inti packing

Packing adalah metrik yang menghitung berapa banyak pemain lawan yang dilewati atau dikeluarkan dari permainan oleh sebuah operan atau giringan. Idenya berpusat pada satu pertanyaan: setelah aksi ini, berapa banyak pemain bertahan lawan yang tadinya berada antara bola dan gawang kini tertinggal di belakang bola, sehingga tak lagi bisa menghalangi serangan.

Semakin banyak lawan yang dilewati oleh sebuah aksi, semakin tinggi angka packing-nya. Sebuah umpan pendek yang tidak melewati siapa pun bernilai rendah, sementara sebuah umpan tajam yang menembus dan meninggalkan lima pemain lawan di belakang bernilai tinggi. Dengan cara ini, packing menilai umpan bukan dari jaraknya, melainkan dari dampaknya terhadap struktur pertahanan lawan, yaitu berapa banyak penghalang yang ia singkirkan.

Menekankan pemain bertahan

Ada penyempurnaan penting dalam gagasan packing yang membuatnya lebih tajam, yaitu penekanan khusus pada pemain bertahan. Tidak semua pemain lawan yang dilewati bernilai sama. Melewati seorang penyerang lawan yang berada jauh dari gawangnya sendiri tidak terlalu berarti, karena penyerang itu memang bukan penghalang utama menuju gawang. Tetapi melewati seorang bek, apalagi beberapa bek sekaligus di dekat pertahanan lawan, jauh lebih berharga, karena merekalah penghalang sesungguhnya antara bola dan gawang.

Karena itu, selain menghitung semua pemain yang dilewati, pendekatan ini juga menyoroti secara khusus berapa banyak pemain bertahan yang dikeluarkan dari permainan, terutama di area dekat gawang lawan. Membedakan melewati pemain bertahan dari sekadar melewati pemain mana pun adalah inti dari nilai metrik ini, karena melumpuhkan para bek jauh lebih menentukan bagi terciptanya peluang daripada melewati pemain yang memang sudah tidak relevan.

Asal-usul dan momen ketenarannya

Packing dikembangkan oleh dua mantan pesepakbola profesional Jerman, Stefan Reinartz dan Jens Hegeler, yang mendirikan sebuah perusahaan analitik untuk mengembangkan dan mengomersialkan gagasan ini. Latar belakang mereka sebagai pemain memberi metrik ini rasa yang berakar pada pengalaman lapangan, bukan semata teori statistik.

Momen ketenaran packing datang sekitar Piala Eropa 2016, ketika metrik ini ditampilkan dalam siaran televisi publik Jerman dan menarik perhatian luas. Yang menarik, kemunculannya yang singkat di layar justru sempat menimbulkan kebingungan, karena konsepnya tidak sempat dijelaskan sepenuhnya dalam waktu tayang yang terbatas, sehingga banyak penonton melihat angkanya tanpa benar-benar memahami maknanya. Meski begitu, momen itu memperkenalkan gagasan packing kepada khalayak yang jauh lebih luas dan menjadikannya salah satu metrik yang banyak dibicarakan.

Keterbatasan yang harus diakui

Seperti semua metrik, packing punya batas yang jujur harus disebut agar tidak disalahartikan. Yang pertama dan paling mendasar, packing menghitung kuantitas pemain yang dilewati, tetapi jumlah itu tidak dengan sendirinya menangkap kualitas atau bahaya dari situasi yang dihasilkan. Melewati banyak lawan ke ruang yang tidak berbahaya belum tentu menciptakan peluang; angka packing bisa tinggi tanpa serangan yang benar-benar mengancam. Metrik ini mengukur berapa banyak penghalang yang disingkirkan, bukan seberapa berbahaya hasil akhirnya.

Keterbatasan kedua bersifat praktis dan penting bagi siapa pun yang ingin mendalaminya. Data packing bersifat tertutup dan dimiliki oleh perusahaan yang mengembangkannya, tidak terbuka untuk umum seperti sebagian sumber data lain yang bisa diakses siapa saja. Metodologi persisnya juga tidak sepenuhnya dipublikasikan. Ini membuat packing sulit diverifikasi secara independen dan sulit dibandingkan dengan metrik dari sumber lain. Bahkan pihak pengembangnya sendiri mengakui bahwa packing adalah sebuah pendekatan baru, bukan jawaban untuk semua pertanyaan, dan bahwa banyak aspek permainan tetap tak bisa diukur secara objektif.

Dengan keterbatasan itu diakui secara terbuka, packing tetap menawarkan cara pandang yang menyegarkan tentang apa yang membuat sebuah umpan berharga. Ia mengingatkan bahwa nilai sebuah operan tidak selalu terletak pada jarak atau keindahannya, melainkan pada berapa banyak lawan yang berhasil ia lumpuhkan. Sebagai satu sudut pandang di antara banyak cara menilai permainan, packing memperkaya perbendaharaan kita, asalkan dibaca dengan kesadaran penuh akan apa yang ia ukur dan apa yang tidak.

Referensi

  1. Planet Football — the German analytics company (IMPECT) out to revolutionise stats: asal packing, pendiri, dan Euro 2016
  2. IMPECT — services: metrik packing dan pemain bertahan yang dikeluarkan dari permainan