TEPI·LAPANGAN
Taktik

PPDA: cara angka mengukur seberapa agresif sebuah tim menekan

Bagaimana menyatakan intensitas pressing sebuah tim dalam satu angka? PPDA menjawabnya dengan membandingkan operan yang dibiarkan lawan terhadap aksi bertahan tim penekan. Ini penjelasan cara kerjanya, arah bacaannya, dan batas-batasnya.

Yoga Pratama · Tepi Lapangan · 8 Oktober 2026

Ketika kita menonton sebuah tim yang menekan tinggi dengan garang, memburu bola sejak dari kaki bek lawan, kita bisa merasakan intensitasnya. Tetapi bagaimana menerjemahkan perasaan itu menjadi angka yang bisa dibandingkan antar-tim dan antar-pertandingan? Salah satu jawaban yang paling banyak dipakai dalam analitik modern adalah sebuah metrik bernama PPDA, singkatan dari passes per defensive action, atau jumlah operan per aksi bertahan. Namanya terdengar teknis, tetapi gagasan di baliknya cukup lugas, dan sekali dipahami, ia menjadi cara ringkas membaca seberapa agresif sebuah tim menekan.

Membaca rumusnya

PPDA menghitung berapa banyak operan yang dibiarkan dilakukan lawan sebelum tim yang menekan melakukan sebuah aksi bertahan. Rumusnya adalah jumlah operan yang berhasil dilepas lawan dibagi jumlah aksi bertahan tim penekan. Aksi bertahan yang dihitung mencakup tekel, intersep, percobaan tekel, dan pelanggaran. Semakin sedikit operan yang dibiarkan sebelum tim melakukan aksi bertahan, semakin kecil angkanya.

Ada satu detail penting soal di mana perhitungan ini dilakukan. PPDA tidak menghitung seluruh lapangan, melainkan hanya bagian lapangan yang dekat ke gawang lawan, yang lazimnya didefinisikan sebagai sekitar enam puluh persen lapangan terdekat ke gawang lawan. Dengan kata lain, area pertahanan terdalam tim sendiri, kira-kira empat puluh persen lapangan di dekat gawang sendiri, sengaja tidak dihitung. Alasannya masuk akal: yang ingin diukur adalah pressing, yaitu tekanan yang diberikan jauh dari gawang sendiri, bukan aksi bertahan bertahan-mati di kotak penalti sendiri.

Arah angkanya, dan ini sering membingungkan

Bagian yang paling sering membuat orang keliru adalah arah pembacaannya, karena berlawanan dengan intuisi. PPDA yang rendah berarti pressing yang lebih intens. Angka rendah berarti tim hanya membiarkan sedikit operan lawan sebelum menyergap dengan aksi bertahan, yang menandakan tekanan tinggi dan agresif. Sebaliknya, PPDA yang tinggi berarti tim membiarkan lawan mengalirkan banyak operan tanpa gangguan, yang menandakan tim memilih menahan diri, mundur, dan bermain dengan blok pertahanan yang lebih dalam.

Jadi ketika membaca PPDA, ingatlah bahwa lebih kecil berarti lebih menekan. Tim-tim yang terkenal dengan gaya pressing tinggi dan agresif secara umum mencatatkan PPDA yang termasuk paling rendah di liganya, sementara tim yang bertahan dalam dengan blok rendah cenderung punya PPDA jauh lebih tinggi. Membalik arah ini adalah kesalahan pembacaan yang paling umum, jadi patut selalu dipastikan.

Dari mana metrik ini datang

PPDA muncul dari gelombang analitik sepak bola pada pertengahan dekade lalu. Ia sering diatribusikan kepada analis Colin Trainor lewat platform StatsBomb sekitar tahun 2014, meski sebagian sumber menyebutkan keterlibatan lebih dari satu analis dan penemuannya tak selalu dikreditkan seragam. Karena itu, atribusi ini sebaiknya diperlakukan sebagai catatan sejarah yang lazim disebut, bukan klaim yang mutlak pasti. Yang jelas, sejak diperkenalkan, PPDA cepat menjadi salah satu cara standar mengukur intensitas pressing dalam analisis taktik.

Apa yang tidak diberitahu PPDA

Seperti metrik apa pun, PPDA punya batas yang harus disadari agar tidak disalahgunakan. Yang pertama dan paling penting, PPDA mengukur intensitas pressing, bukan efektivitasnya. Angka rendah memberi tahu bahwa sebuah tim sering mencoba menekan, tetapi tidak memberi tahu apakah tekanan itu berhasil merebut bola atau memaksa kesalahan. Sebuah tim bisa menekan dengan gencar namun sembrono, menghasilkan PPDA rendah tanpa benar-benar efektif.

Kedua, PPDA sangat dipengaruhi oleh keadaan pertandingan dan penguasaan bola. Tim yang tertinggal dan mengejar gol akan menekan lebih agresif, sementara tim yang sudah unggul cenderung mundur, sehingga angka yang sama bisa berarti hal berbeda tergantung konteks. Ketiga, definisi zona dan aksi yang dihitung berbeda antar penyedia data seperti Opta, StatsBomb, dan Wyscout, sehingga angka PPDA dari dua sumber berbeda tidak bisa dibandingkan mentah-mentah.

Dengan batasan-batasan itu diakui, PPDA tetap salah satu alat paling praktis untuk menerjemahkan gaya bertahan sebuah tim menjadi angka. Ia tidak menjawab segalanya tentang pressing, tetapi ia memberi titik awal yang objektif, mengubah kesan samar “tim ini menekan tinggi” menjadi sesuatu yang bisa diukur, dibandingkan, dan diperdebatkan dengan dasar yang jelas.

Referensi

  1. Premier League — Passes per defensive action explained: definisi PPDA dan cara bacanya
  2. Wyscout Data Glossary — PPDA: rumus dan variasi penyebut antar penyedia data