VAEP: memberi nilai pada setiap sentuhan bola, menyerang maupun bertahan
Bagaimana menilai sebuah tekel, umpan aman, atau giringan berisiko dengan satu kerangka yang sama? VAEP mencoba menghargai setiap aksi berdasarkan seberapa besar ia mengubah peluang mencetak dan kebobolan gol. Ini cara kerjanya, dan batasnya.
Sebagian besar metrik sepak bola menyorot hal-hal yang mencolok: gol, tembakan, umpan kunci. Tetapi sebuah pertandingan terdiri dari ribuan aksi kecil, dan tembakan hanya sebagian sangat kecil darinya. Sebuah tekel yang tepat waktu, sebuah umpan aman yang menjaga penguasaan, sebuah giringan berisiko yang kehilangan bola, semuanya memengaruhi jalannya pertandingan, tetapi jarang tertangkap oleh statistik biasa. Bagaimana bila kita bisa memberi nilai pada setiap sentuhan bola, baik yang menyerang maupun yang bertahan, dengan satu ukuran yang sama? Itulah ambisi dari sebuah kerangka analitik bernama VAEP, dan ia mewakili salah satu upaya paling menyeluruh untuk menilai kontribusi pemain sepenuhnya.
Gagasan inti VAEP
VAEP adalah singkatan dari sebuah frasa yang berarti menilai aksi dengan memperkirakan probabilitas. Inti gagasannya adalah memberi nilai pada setiap aksi dengan bola, entah umpan, giringan, tekel, sepak pojok, atau silang, berdasarkan seberapa besar aksi itu mengubah peluang tim dalam waktu dekat. Alih-alih hanya menilai tembakan atau umpan terakhir, VAEP mencoba menilai semuanya.
Yang membuat VAEP menonjol adalah sifatnya yang dua sisi. Nilai sebuah aksi dihitung sebagai perubahan peluang tim untuk mencetak gol dalam waktu dekat, dikurangi perubahan peluang tim untuk kebobolan dalam waktu dekat. Dengan rumus dua sisi ini, sebuah aksi menyerang yang meningkatkan peluang mencetak mendapat nilai positif, tetapi aksi berisiko yang juga meningkatkan peluang kebobolan akan dikurangi nilainya. Aksi bertahan seperti tekel dan intersep, yang menurunkan peluang lawan mencetak, juga mendapat nilai positif. Inilah keunggulan konseptual VAEP: ia menghargai kontribusi menyerang dan bertahan dalam satu kerangka yang sama dan seimbang.
Dari mana kerangka ini berasal
VAEP dikembangkan oleh sekelompok peneliti di sebuah universitas di Belgia, dengan makalah yang diterbitkan sekitar tahun 2019 dan judul yang secara puitis menyatakan bahwa aksi berbicara lebih lantang daripada gol. Judul itu menangkap semangatnya dengan tepat: gagasan bahwa nilai seorang pemain terletak pada seluruh rangkaian aksinya, bukan hanya pada momen mencetak gol yang jarang.
Untuk menghitung perubahan probabilitas ini, VAEP memakai model pembelajaran mesin yang mempertimbangkan keadaan permainan, yaitu situasi di lapangan pada saat aksi dilakukan. Model ini melihat konteks seperti di mana bola berada, apa yang terjadi pada beberapa aksi sebelumnya, dan keadaan pertandingan, lalu memperkirakan bagaimana sebuah aksi mengubah peluang mencetak dan kebobolan. Pendekatan berbasis model inilah yang memungkinkan VAEP menilai aksi secara individual dengan mempertimbangkan situasinya, bukan sekadar memberi nilai seragam.
Bedanya dari metrik lain
Agar tidak tertukar, ada baiknya menempatkan VAEP di samping metrik lanjutan lain yang sering disebut bersamanya. Expected threat, atau xT, adalah model nilai penguasaan bola yang umumnya berfokus pada memajukan bola menuju gawang, sehingga lebih menyoroti sisi menyerang dan kesulitan menilai aksi bertahan seperti tekel. VAEP melangkah lebih jauh dengan menilai aksi menyerang dan bertahan secara simetris melalui perubahan dua sisi tadi.
VAEP juga berbeda dari xG chain, yang membagi nilai sebuah peluang secara kasar dan merata kepada semua pemain yang terlibat dalam satu rangkaian penguasaan bola. VAEP tidak membagi rata; ia menilai setiap aksi secara terpisah berdasarkan perubahan probabilitas yang ditimbulkannya. Karena itu, VAEP secara konseptual lebih rinci daripada xG chain dan lebih menyeluruh daripada xT dalam hal mencakup sisi bertahan.
Kelemahan yang harus diakui
Kekuatan konseptual VAEP datang dengan sejumlah kelemahan yang jujur harus disebut. Yang pertama dan paling mendasar, VAEP bergantung sepenuhnya pada model probabilitas yang melatarinya. Hasilnya ditentukan oleh bagaimana model itu dilatih dan fitur apa yang dipilih, sehingga dua penerapan VAEP yang berbeda bisa memberi angka yang tidak sama. Ini membuat VAEP kurang mudah dibandingkan antar sumber dan kurang transparan dibanding metrik yang lebih sederhana.
Kelemahan kedua, VAEP menilai aksi dengan bola, sehingga sebagian besar mengabaikan pergerakan tanpa bola dan penempatan posisi yang tidak melibatkan sentuhan langsung. Padahal sebagian kontribusi terpenting dalam sepak bola, seperti membuka ruang atau menutup jalur, terjadi tanpa menyentuh bola. Kelemahan ketiga, karena berbasis model, VAEP sensitif terhadap kualitas data dan bisa memberi hasil yang berfluktuasi, dengan sebagian studi mencatat bahwa penilaian pemain lewat VAEP kurang stabil dibanding metrik seperti xT, sebagian karena VAEP memberi nilai sangat besar pada gol.
Dengan batasan-batasan itu diakui secara terbuka, VAEP tetap salah satu upaya paling ambisius dalam analitik sepak bola untuk menjawab pertanyaan yang sulit: berapa nilai sebenarnya dari setiap hal yang dilakukan seorang pemain dengan bola, bukan hanya saat ia mencetak atau memberi assist. Ia bukan ukuran sempurna, dan sebaiknya dibaca sebagai salah satu sudut pandang di antara banyak sudut pandang, bukan sebagai vonis tunggal atas kualitas pemain. Tetapi sebagai upaya menilai seluruh aksi secara adil, menyerang maupun bertahan, VAEP menandai arah yang penting dalam cara kita mencoba memahami permainan lewat angka.