xG chain dan xG buildup: memberi kredit kepada pemain di balik sebuah peluang
Bagaimana menghargai bek atau gelandang dalam yang membangun serangan tetapi tak pernah menembak atau memberi umpan terakhir? xG chain dan xG buildup mencoba menjawabnya dengan membagi nilai sebuah peluang ke seluruh pemain yang terlibat, meski dengan cara yang kasar.
Metrik penciptaan peluang seperti expected assists memberi kredit kepada pemain yang melepas umpan terakhir sebelum sebuah tembakan. Tetapi bagaimana dengan pemain yang memulai serangan tiga atau empat operan sebelumnya? Seorang bek tengah yang memecah tekanan lawan dengan operan berani, seorang gelandang jangkar yang menggeser bola ke sisi yang tepat untuk membuka ruang, keduanya bisa menjadi awal dari sebuah peluang emas tanpa pernah menyentuh bola lagi di sepertiga akhir. Statistik tembakan dan assist tidak menangkap kontribusi mereka sama sekali. Untuk mencoba memberi mereka pengakuan, analitik memperkenalkan dua metrik bersaudara: xG chain dan xG buildup. Keduanya menarik, berguna, sekaligus punya kelemahan yang harus dipahami dengan jujur.
Gagasan dasar xG chain
xG chain, kadang ditulis xGChain, bekerja dengan cara yang mudah dijelaskan meski terdengar tak biasa. Untuk setiap rangkaian penguasaan bola yang berakhir dengan sebuah tembakan, metrik ini mengambil nilai expected goals dari tembakan itu, lalu memberikan nilai penuh tersebut kepada setiap pemain yang terlibat dalam rangkaian penguasaan bola itu. Siapa pun yang melakukan sebuah aksi, entah operan atau giringan, dalam penguasaan bola yang berujung tembakan, mendapat kredit sebesar xG tembakan tersebut.
Artinya, bila sebuah serangan yang melibatkan enam pemain berakhir dengan peluang bernilai xG tertentu, keenam pemain itu masing-masing dicatat memperoleh nilai xG penuh dari peluang tersebut untuk rangkaian itu. Kredit diberikan secara menyeluruh kepada semua yang terlibat, bukan hanya kepada penembak atau pengumpan akhir. Inilah yang membuat xG chain mampu menyorot pemain yang konsisten terlibat dalam serangan-serangan berbahaya, meski nama mereka tak pernah muncul di statistik gol maupun assist.
Apa yang membedakan xG buildup
xG buildup, atau xGBuildup, adalah saudara dekat xG chain dengan satu penyesuaian penting. Ia menghitung hal yang sama, tetapi dengan mengecualikan dua peran yang sudah tertangkap metrik lain, yaitu penembak dan pemberi umpan terakhir. Dengan membuang kontribusi tembakan dan umpan kunci, xG buildup menyisakan hanya kontribusi para pemain di fase pembangunan serangan.
Tujuan dari pengecualian ini sangat spesifik dan cerdik. Seorang penyerang tajam akan selalu terlihat bagus di xG chain karena ia yang menembak, dan seorang pengumpan ulung akan terlihat bagus karena ia yang memberi assist. Tetapi xG buildup dirancang justru untuk menyingkirkan efek itu, agar yang tersisa adalah nilai para pembangun serangan yang tidak menembak dan tidak memberi umpan akhir. Inilah sebabnya xG buildup sangat berguna untuk menilai bek tengah dan gelandang dalam, pemain yang kontribusinya terletak di awal serangan dan selama ini paling sulit diukur dengan angka.
Dari mana metrik ini berasal
Kedua metrik ini dipopulerkan oleh platform analitik StatsBomb lewat sebuah tulisan pada tahun 2018. Konsep memberi kredit kepada seluruh rangkaian penguasaan bola sebenarnya sudah pernah dibahas sebelumnya di kalangan analis, sehingga lebih tepat dikatakan bahwa StatsBomb membakukan dan mempopulerkan istilahnya, bukan menciptakannya sepenuhnya dari nol. Sejak itu, xG chain dan xG buildup menjadi cara yang cukup umum dipakai untuk melihat kontribusi pemain di luar tembakan dan assist.
Kelemahan yang tidak boleh disembunyikan
Kejujuran menuntut kita mengakui bahwa metrik ini kasar, dan pembuatnya sendiri menggambarkannya sebagai langkah maju, bukan ukuran sempurna. Kelemahan terbesarnya adalah cara pembagian kreditnya yang bersifat semua atau tidak sama sekali. Setiap pemain dalam rangkaian penguasaan bola mendapat kredit yang sama besar, tak peduli seberapa penting kontribusinya. Sebuah operan mundur yang sekadar mengalirkan bola mendapat kredit yang persis sama dengan sebuah operan terobosan mematikan, asalkan keduanya berada dalam rangkaian penguasaan bola yang sama. Metrik ini tidak membedakan kualitas kontribusi.
Kelemahan kedua adalah bahwa metrik ini menguntungkan pemain di tim yang dominan menguasai bola. Tim yang sering menyerang dan banyak menembak akan membuat hampir semua pemainnya mencatatkan angka xG chain yang tinggi, terlepas dari kualitas individu mereka. Karena itu, angka ini harus dibaca dengan mempertimbangkan gaya dan dominasi tim, bukan sebagai peringkat kemampuan menyerang yang berdiri sendiri. Berbeda dengan expected threat yang menilai setiap aksi secara terpisah dan lebih rinci, xG chain dan xG buildup menilai secara biner per rangkaian penguasaan bola, sehingga lebih kasar meski lebih mudah dipahami.
Dengan batasan itu diakui secara terbuka, xG chain dan xG buildup tetap tambahan yang berharga. Keduanya mengingatkan bahwa sebuah peluang jarang lahir dari satu pemain saja, dan bahwa sebagian sumbangan paling penting dalam sepak bola terjadi jauh sebelum bola tiba di kaki penembak. Sebagai titik awal untuk menghargai para pembangun serangan yang selama ini tak terlihat, keduanya melakukan tugasnya, asalkan kita membacanya dengan kesadaran penuh akan kekasarannya.